Diusianya yang telah mencapai 101 tahun, seorang kakek yang bernama Nur Khalik masih harus bekerja keras membanting tulang demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Ia tergolong masih kuat dengan mendorong gerobak hingga puluhan kilometer. Penglihatannya pun masih jelas meski tanpa bantuan kacamata.
Rahasianya, Nur Khalik ternyata sangat menjaga pola makannya sedari muda. Menu makanan yang jadi santapan sehari harinya adalah nasi dengn lauk seadanya yaitu tahu, tempe, kangkung hingga genjer. Ia juga hobi menikmati segeka kopi dan menjauhi makanan seperti daging, telur dan ikan. Hali inilah yang mungkin membuat tubuhnya bugar meski telah lebih dari separuh abad.
Tubuh ringkihnya yang telah menua tak sedikitpun memnyurutkan langkah sang kakek untuk tetap mencari rezeki. Yang mengharukan, ia ingin tetap bekerja karena tak ingin merepotkan anak-anaknya yang semuanya telah berkeluarga. Saat ini, ia tinggal di Ciputat bersama kedua anaknya yang bekerja sebagai pemulung.
Dengan menempati sebuah gubuk sempit yang berukuran 3x5 meter dan bangunan tersebut jauh dari kesan nyaman untuk ditinggali oleh seorang kakek tua seperti dirinya. Beratap dan berdinding seng, Nur Khalik mengaku sangat bersyukur dan merasa nyaman dengan kondisinya tersebut. Gubuk yang ditinggalinya merupakan bantuan dari seorang juragan pengepul barang bekas. Nur Khalik diperbolehkan tinggal menumpang di kawasan tersebut dengan gratis dan cukup untuk membayar biaya listriknya saja.
Dia memilih abu gosok sebagai penyambung nafas hidupnya. Ia menekuni profesi tersebut sudah sejak 50 tahun silam. Meski saat ini tak banyak lagi yang menggunakan abu gosok, ia tetep berusaha untuk mendulang untung dengan berjualan barang tersebut. Dan lewat abu gosoklah ia bisa menginjakan kakinya di ibukota. Setiap pekannya, Nur Khalik mendapatkan abu gosok yang bisa dijualnya. Terkadang, abu gosok tersebut laku dijualnya seharga Rp 3.000 hingga Rp 10.000. Tak hanya itu ia juga mencoba menambah pemasukan denagn membeli balon tiup yang dipompanya sendiri. Balon tersebut kemudian dijualnya disekitar kawasan UIN.
Perjuangan hidup Nur Khalik yang sempat beredar di sosial media banyak menuai simpati dari banyak orang. Ia mendapatkan berbagai sumbangan dari masyarakat seperti uang, kasur hingga kebutuhan pokok seperti beras. Jika ia bisa berkeliling mulai pagi hingga malam, kini setiap pukul 14.00 harus sudah siap dirumah unutk bersih-bersih dan menerima kunjungan tamu. Bahkan, sejak pemberitaa dirinya yang semakin meluas, dampaknya juga turut mempengaruhi penghasilan sehari-harinya. Tercatat, ia terkadang mendapatkan untung hingga Rp 100.000. Menurut dirinya semua itu adalah rezeki dari Tuhan yang dilewatkan kepada orang lain yang bersimpati kepadanya.
Di usianya yang telah mencapai penghujung hidup, Nur Khalik ingin hidup tenang dengan berbagai manfaat kepada sesama. Ia juga ingin membahagiakan sang isteri yang telah memberikannya anak tersebut. Selain itu, Nur Khalik jug aingn menolong orang yang kesusahan dan menyantuni anak yatim piatu saat lebaran tiba. Bahkan, ia juga berniat ingin mewakafkan masjid jika masih diberi umur panjang oleh Yang Maha Kuasa. Uang penghasilannya selam ini selalu diberikan kepada isteri untuk pengobatan diabetes. Saat hari raya tiba, ia juga kerap menabung agar bisa menyantuni anak-anak sebagai bentuk rasa bersyukurnya.
Kisah Nur Khalik seperti di atas yang sangat inspiratif sangat menampar diri kita yang masih muda namun hobi bermalas-malasan. Usia tuanya terbukti bukanlah menjadi penghalang bagi seorang kakek Nur Khaklik untuk tetap giat mencari rezeki. Semoga cerita diatas, dapat menginsipirasi sekaligus mengingatkan diri kita agar senantiasa berusaha dan yakin, meski terhalang keterbatasan dalam bentuk apapun.
--Dr'y--

No comments:
Post a Comment